Beranda » Uncategorized » AKU RASAKAN

AKU RASAKAN

Aku Rasakan

 

Aku melihat burung merpati itu

Terkungkung dalam sangkar besinya

Di suatu pasar hewan, di pagi dluha

Tanpa daya ….

 

Seorang anak belia … masih sangat belia

Menengadah tangan kepada tiap para pelancong

Smentara ibunya yang masih muda menunggu dari kejauhan

Wajah anak itu tampak ceria, tak terbersit kegelisahan apapun

Baginya, mencari rupiah lebih mengasikkan

Daripada menghabiskan waktu dengan pena dan buku

Huufh..

Usianya memang masih sangat belia tuk melawan kehidupan

 

Dan aku masih melihat merpati itu

Terkungkung dalam sangkar besinya

Di suatu pasar hewan, di pagi dluha

Tanpa daya ….

 

Di simpang jalanan, di bawah lampu merah

Seorang pengamen mendendangkan syair lagunya

Usianya masih belia … sekali lagi, masih sangat belia

Suaranya agak parau memecah telinga keramaian

Wajahnya kusam bergulat debu jalanan

Receh demi receh dikumpulkan tuk makan seharian

Baginya, ngamen lebih membebaskan bakat nyanyinya

Daripada harus duduk terkunggung oleh empat persegi tembok putih

Huufh….

Usianya memang masih sangat belia tuk mengerti kehidupan

 

Kembali ku lihat merpati itu

Masih saja terkungkung dalam sangkar besinya

Di suatu pasar hewan, di pagi dluha

Tanpa daya ….ya,  tanpa daya

Kali ini, matanya nanar melihat itu semua

Dan aku rasakan itu, dalam … sangat dalam

 

Wahai engkau merpati dalam sangkar!

Sudahkah engkau penuhi janji ibu pertiwi?

Tuk mencerdaskan kehidupan bangsa?

apakah janji-janji sudah tertancapkan dalam sang kalbu ibu pertiwi?

Atau hanya terbentur pada meja-meja kekuasaan yang sibuk memoleskan lipstik di bibir?

Kemanakah engkau di saat anak-anak merengek tak dapat mencicipi bangku sekolah?

Kemanakah engkau ketika anak-anak malah lebih asik menghabiskan waktunya di jalanan, di lorong-lorong pertokoan, di pasar-pasar?

Masihkah engkau melihat itu semua?

Masihkah engkau mendengar itu semua?

Masihkah engkau merasakan itu semua?

Masihkah engkau terus-terusan dikungkung dalam sangkar besi yang sudah usang itu?

 

Tidak!!!

Engkau harus keluar!

Memberontak!

 

Aku merindukan kepak sayap mu yang merangkul dalam keragaman

Aku merindukan  cakar tajam mu  yang menggenggam kemanusiaan

Aku merindukan mata tajam mu yang  segan ‘kan keadilan

Aku merindukan bulu-bulu putihmu menjadi obat penawar bagi kemiskinan

Aku selalu merindukannya ….

 

Tapi, aku masih saja melihat engkau

Masih terkungkung dalam sangkar besimu

Di suatu pasar hewan, di pagi dluha

Tanpa daya ….

 

 

Tubagus Umar Syarif Hadiwibowo

Yogyakarta, 27 Oktober 2011

 

 


1 Komentar

  1. maya simorangkir mengatakan:

    maiia : saiia sudah membaca barisan puisi indah ini. tak bisa saiia ungkapkan dengan kata2 dan tak dapat saiia punkiri bahwa puisi ini merupakan goresan kecil dari tangan saudaraku yang sangat indah. terus berkarya saudaraku…aku menunggu goresan tanganmu selanjutnya…..sipppppppp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: