Beranda » Uncategorized » Penelitian Sejarah (historical research)

Penelitian Sejarah (historical research)

Penelitian sejarah itu unik, menantang, dan kompleksional.Unik karena merekonstruksi peristiwa masa lampau yang masih kontroversial, menantang karna dibutuhkan ketekunan, keterampilan dan kerja keras (“up and down”) pantang menyerah dalam mencari sumber, dan kompleksional karena menyangkut eksistensi (baik nilai, moral, agama, dan kebudayaan)suatu bangsa dan manusia dari masa lampau, kini dan masa depan

Mengobrol dengan masa lalu sambil menyeruput kopi hikmah di teras rumah masa depan, itulah sejarah.

Penelitian Historis merupakan suatu penyelidikan yang mengaplikasikan metode pemecahan yang ilmiah dari perspektif historis Pada dasarnya landasan utama dari metode sejarah adalah bagaimana menangani bukti-bukti sejarah dan bagaimana menghubungkannya (William H. Frederick dan Soeri Soeroto). Tujuan yang ingin dicapai tenya adalah berusaha merekonstruksi peristiwa yang terjadi pada masa lampau dengan serangkaian metode dan metodologi.

Penelitian sejarah memerlukan konsep atau teori, metode dan metodologi sebagai pisau bedah dalam membahas sebuah topik yang dikaji. Dengan adanya ketiga pondasi tersebut, maka diharapkan suatu penelitian dapat melahirkan sebuah sejarah analitis kompleks yang berusaha membedah dan menjawab asal mula (genesis), sebab (causes), kecenderungan (trend), kondisional dan konteks serta perubahan (changes) suatu peristiwa sejarah. (Suhartono W. Pratono, 2010:9) Bukan sekadar menghasilkan penelitian naratif yang hanya mampu menjawab pertanyaan elementer, seperi apa peristiwa yang terjadi? Bagaimana proses kejadian dari peristiwa tersebut?.

Ujung-ujung dari metodologi sejarah adalah aplikasinya dalam penelitian sejarah (historical research). Artinya apakah metodologi itu diterapkan dalam rangka melakukan penelitian sejarah. Meskipun demikian ada rambu-rambu dalam penelitian sejarah seperti dalam ilmu lain (Suhartono W. Pratono, 2010:149). Beberapa tokoh sejarawan memiliki rumusan dan bahasan yang berbeda dalam meracik penelitian sejarah, namun muara mereka satu tuju dalam menghasilkan sebuah historiografi sebagai khazanah keilmuan bagi khalayak ramai.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh sejarawan asal Bandung, Helius Sjamsuddin dalam bukunya “Metodologi Sejarah”, paling tidak ada enam tahap yang harus ditempuh dalam penelitian sejarah (Helius Sjamsuddin, 2007:89):

  1. Memilih suatu topik yang sesuai;
  2. Mengusut semua evidensi (bukti) yang relevan dengan topik;
  3. Membuat catatan tentang (itu) apa saja yang dianggap penting  dan relevan dengan topik yang ditemukan ketika penelitian sedang berlangsung (misalnya dengan menggunakan system cards);
  4. Mengevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah dikumpulkan (kritik sumber);
  5. Menyusun hasil-hasil penelitian (catatan-catatan) fakta ke dalam suatu pola yang benar dan berarti yaitu sistematika tertentu yang telah disiapkan selanjutnya;
  6. Menyajikannya dalam suatu cara yang dapat menarik perhatian dan mengkomunikasikannya kepada para pembaca sehingga daapat dimengerti sejelaas mungkin.

Kuntowijoyo, Begawan sejarah asal Yogyakarta, dalam bukunya “Pengantar Ilmu Sejarah”, mengungkapkan lima tahap utama dalam penelitian sejarah :

  1. Pemilihan topik

Mahasiswa yang sudah menempuh bebas teori dalam kuliahnya (umumnya pada semester tujuh) terkadang kebingungan ketika ia dihadapkan dengan tugas akhir untuk menyusun skripsi, apalagi dosen selalu berkoar-koar untuk cepat mengumpulkan draft proposal penelitian. Meskipun hanya sebatas mengumpulkan sebuah topik penelitian, itu merupakan sebuah tugas berat bagi para mahasiswa. Namun ini adalah sebuah tantangan semesta, memaksa mahasiswa untuk think hard, study hard, and working hard. Toh, ketika mahasiswa tersebut mendapatkan sebuah topik yang dirasa sehati dan sejiwa, mereka tentunya amat senang bak keruntuhan “gunungan emas”. Apalagi didukung dengan sumber yang melimpah ruah dan kemudahan lainnya dalam menyusun skripsi.

Bagi peneliti, langkah-langkah yang khas dalam menjalankan suatu proyek adalah mula-mula menciutkan fokus secara perlahan, yakin bergerak dari tema ke topik ke pertanyaan dan ke hipotesa, meskipun hipotesa tidak selalu dirumuskan secara eksplisit (Heather Sutherland, 2008: 52).  Misalnya, seorang peneliti ingin memindahkan perhatiannya dari peristiwa masa revolusi Indonesia (tema), ke Madiun Affair 1948 (topik), ke persoalan mengapa terjadi peristiwa Madiun pada tahun 1948. Argument yang mencuat ke daratan (hipotesa dan kesimpulan) diantaranya, adalah pertarungan ideologi, masalah intern angkatan bersenjata RI, atau kudeta kaum kiri (FDR-PKI).

Topik seharusnya dipilih berdasarkan: (1) kedekatan emosional dan (2) kedekatan intelektual. Dua syarat itu, subjektif dan objektif, sangat penting, karena orang hanya akan bekerja dengan baik kalau dia senang dan dapat. Setelah topik ditemukan biasanya kita membuat (3) rencana penelitian (Kuntowijoyo, 2005:91)

  1. Pengumpulan sumber (Heuristik)

Sumber sejarah yang akan diteliti sangat berlimpah ruah di alam, seperti halnya kayu-kayu yang disediakan oleh hutan kepada sang penebang kayu untuk dijadikan kayu bakar. Kesabaran dan kepekaan peneliti selama mengumpulkan sumber sejarah amat diperlukan demi kelangsungan dan keajegan penelitian sejarah tersebut.

Heuristik (pengumpulan sumber) sejarah tidak berbeda dalam dalam hakikatnya dengan bibliografis yang  sejauh menyangkut buku-buku yang tercetak (labogratorium yang lazim digunakan bagi sejarawan adalah perpustakaan, dan alatnya yang paling bermanfaat disana adalah katalog). Akan tetapi sejarawan harus mempergunakan banyak material yang tidak terdapat di daalam buku-buku. Jika bahan-bahan itu bersifat arkeologis, epigrafis, atau numismatis untuk sebagian besar ia harus bertumpu kepada museum (Louis Gottschalk, 2006:42)

  1. Verifikasi (kritik sumber dan keabsahan sumber)

Taruhlah jika kita akan membuat sebuah bangunan rumah dari batangan korek api yang berserakan. Kerangka bangunan haruslah terdiri dari batangan korek api yang sangat kuat, kokoh, dan baik untuk berusaha mencapai kesempurnaan bangunan. Sementara batangan korek api yang lemah dan mudah patah haruslah disingkirkan jikalau tidak ingin mengganggu pembangunan kerangka bangunan rumah. Begitulah verifikasi.

Setelah kita mengetahui secara persis topik kita dan sumber sudah kita kumpulkan, tahap yang beriktnya ialah verifikasi, atau kritik sejarah, atau kebsahaan sumber. Verifikasi itu dua macam: autentitas, atau keaslian sumber, atau kritik ekstern, dan kredibilitas, atau kebiasaan dipercayai, atau kritik intern (Kuntowijoyo, 2005:100).

  1. Intepretasi (analisis dan sintesis)

Interpretai atau penafsiran sering disebut sebagai biang subjektifitas . sebagian itu benar, tetapi sebagian salah. Benar, karena tanpa penafsiran sejarawan, data tidak bisa berbicara. Sejarawan harus jujur, akan mencanumkan data dan keterangan dari mana data itu diperoleh. Orang lain dapat melihat kembali  menafsirkanulang. Itulah sebabnya, subjektifitas penulis sejarah diakui, tetapi untuk dihindari. Interpretasi itu dua macam, yaitu analisis dan sintesis (Kuntowijoyo, 2005:101-102).

Sejarawan harus berfikir secara plurokausal ketika ia menginterpretasi suatu peristiwa, karena tidak ada peristiwa di dunia ini yang disebabkan hanya satu penyebab saja (monokausal). Semua pasti ada generalisir yang membuat peristiwa itu dapat dilihat dari berbagai sudut pandang penyebab, inilah yang akan melahirkan sebuah multidimensionalitas dalam sejarah.

Multidimensionalitas gejala sejarah perlu ditampilkan agar gambaran menjadi lebih bulat dan menyeluruh sehingga dapat terhindar dari kesepihakan atau determinisme, yang penting dari implikasi metodologi ini ialah bahwa pengungkapan dimensi-dimensi pendekatan yang lebih kompleks, ialah pendekatan multidimensi. Bagi sejarawan yang akan menerapkan metodologi itu ialah bahwa dia perlu menguasai berbagai alat analitis yang dipinjam dari ilmu sosial (Sartono Kartodirjo, 1993:87).

  1. Penulisan (historiografi)

Dalam penulisan sejarah, aspek kronologis sangat penting. Kalau dalam penulisan sosiologi “alur lurus” atau  tidak menjadi masalah, tidak demikian halnya dengan sejarah. Demikianlah, misalnya, kita akan menulis, “Perubahan Sosial di Semarang, 1950-1990” (Kuntowijoyo, 2005:105).

Struktur penyajian penelitian dalam bentuk tulisan terdiri dari:

I.   Pengantar

Hakikat bab pengantar yaitu untuk memperkenaalkan kepada pembaca tentang pokok penelitian dan tentunya tidak detil. Pembaca didorong dari tidak tahu menjadi tahu  persoalan yang akan dibahas dalam arti memikat, keinginan untuk tahu, memotivassi pembaca gar mau membaca selanjutnya. Bagian substansi pengantar berupa:

1)   Latar belakang yang disusul pokok persoaalan, dan pentingnya masalah.

2)   Tinjauan pustaka kritis tentang relevansinya dengan penelitian yang akan dilakukan.

3)   Tujuan penelitian.

4)   Temuan yang dibayangkan (hipothesis)

5)   Observassi bahan (baik berupa studi pustaka, arsip, dokumentasi lapangan, maupun wawancara narasumber)

6)   Metodologi; Perangkat untuk menjawaab diperlukan kerangka konsep, teori hipotesis (jika ada), pendekaatan, dan garis besar (outline) tiap bab.

Butir-butir di atas dimasukkan semua dalam bab pengantar, tetapi ada yang hanya sebagian dn bahkan hanya implisit (khususnya untuk makalah).156

 

II.   Tubuh (tengah): Hasil penelitian

Pada bagian ini disampaikan bukti (evidensi) dan alasan (argumen) yang terdiri dari beberapa bab.

1)   Beberapa penjelasan atau uraian pokok persoalan.

2)   Pertanyaan 5W dan H dijawaab dalam penjelaasan disertai bukti, profesionalisme akademik sebaagai sejarawan berupa kutipan dan juga peta, gambar, bagan, grafik, dan lain-lain. 156

 

III.   Kesimpulan (akhir)

Bab ini mencakup pengertian:

1)   Lebih duludibuat generelisasi daai bab-bab sebelumnya, dan kemudian menghasilkan sintesaa.

2)   Menjawaab pokok persoalan yang diajukan pada bab pengantar.

3)   Menghasilkan social significance daari penelitian sejaaraah berupa kearifan.

4)   Implikasi lebih luas dan penelitian lanjutan sebaagaai hasil dari historical enterprise.

 

IV.   Kelengkapan Akademik

1)   Catatan kaki atau catatan tubuh

Khususnya untuk penulisan ilmiah, ilmu sejarah lebih cocok digunakan catatan kaki. Pada dasarnya ctatan kaki atau perut merupakan pertanggungan jawab akademik dan kejujuran akademik dari peneliti.

2)   Kepustakaan

Kepustakaan adalah bagian yang special dari kelengkapan akademik pakar. Ada banyak istilah untuk menyebut sumber penulisaan; kepustakaan, bibliografi, referensi, rujukan, daftar pustaka, dan lain-lain.

Kepustakaan berfungsi sebagai sebuah daaftar substansi yang sudah diseleksi relevansinya dengan temaa penelitian, termasuk jenis-jenis sumber (primer, sekunder, artikel, manuskrip, dan lainnya). Kepustakaan juga merupakan sebuah entry bagi pembaca untuk melakukan pembacaan daan penelitian sumber selanjutnya dan kepustakaan yang lengkap daapat digunakan untuk mengukur keluasan bacaan dan kedaalaman akademik.

3)   Lampiran

Lampiran atau apendik fungsinya saamaa dengaan caatataan kaki substansi yang jauh lebih dari setengah halaman. Sangat  bisa memuat bukti (arsip, kontrak, surat keputusan, surat pribadi) data argument, biografi singkat, serta komentar. Gambar, foto, peta, grafik, baagan, statisti, daftar dapat ditempatkan di lampiran. Namun semuanya harus diseleksi dan dipilih yang saangat relevan. 159

 

 

Ujung dari Sejarah adalah Hikmah!

 

Daftar Pustaka:

Heather Sutherland, “Meneliti Sejarah Penulisan Sejarah”, dalam Henk Schulte Nurdholt, dkk (ed.). 2008. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia – KITLV-Jakarta, Denpasar: Pustaka Larasan.

Helius Sjamsuddin. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Louis Gottschalk. 2006. Mengerti Sejarah, penerjemah Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI-Press.

Kuntowijoyo. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.

Sartono Kartodirjo. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Suhartono W. Pratono. 2010. Teori dan Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Graha Ilmu.

William H. Frederick dan Soeri Soeroto (ed.). Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum Dan Sesudah Revolusi. Jakarta : LP3ES.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: