Beranda » Uncategorized » cAHAYA sURGA

cAHAYA sURGA

Aku melihat cahaya surga

Bersinar cerah di wajahmu

Sungguh aku melihatnya

 

Kau tawarkan aku segelas kopi

Pelega dahaga di siang nan penat

Sungguh melegakan

 

Matamu indah membulat hitam

bermahkotan alis tebal

bak gadis keturunan arab peranakan

Parasmu begitu sempurna dalam balutan jilbab

akankah hatimu pun begitu suci dalam balutan iman

Sungguh aku ingin tahu…

 

Kau suguhkan pula sepiring nasi goreng spesial

Walau tak sesuai porsiku

Tapi keelokan parasmu cukuplah mengenyangkan perut

Sungguh mengenyangkan

 

Aku  heran sekali

Mengapa Allah menghadirkan sesosok bidadari di sebuah kantin sekolah

dikelilingi hijaunya sawah dan terpencil dari keramaian kota Jogja

Sungguh aku heran…

 

Sabar kau melayani anak-anak yang mulai lapar

Lirih suaramu menggetarkan dedaunan permai

Sejenak ku mencuri pandang wajahmu

Namun kau enggan mendongakkan kepala

Subhanallah, Allah telah memelihara pandangan matamu

dari lirikan laki-laki bukan muhrim

 

Kau bagaikan bidadari pemalu

yang duduk menyendiri di bawah rindangnya pohon surga

dan ketika Rasulullah, dalam mi’rajnya bertanya pada Jibril

“Wahai Jibril, siapakah wanita yang menyepi di bawah pohon itu?”

Jibril pun menjawab, “ia adalah bidadari yang diperuntukkan seorang Umar Bin Khattab,

karena kesalehan dan kezuhudannya di dunia.”

Keberkahan bagi sayyidina Umar yang dinanti seorang bidadari di surga

Sungguh kau laksana bidadari itu

Yang begitu pemalu dalam kesepian dan kesetiaanmu

 

Ah.. sayang sekali hari itu adalah Sabtu

tak ada kesempatan lagi aku melihatmu

Lirih suaramu dengan aksen Jawa lembut

menghadirkan kesyahduan dalam hati yang mendengarnya

Suara angin gemerisik membelai pepadian pun pastilah iri mendengar suaramu

Sang cahya terus melindas hari yang semakin terik

Menembus arak-arakan awan yang membentuk layaknya makhluk hidup

Anak-anak berlarian riang gembira berjingkrakan

Mendengar bel berbunyi melihat induk menjemput

Jikalau suatu hari nanti kita bertemu

Ingin sekali kukatakan, “Aku  mencintaimu”.

Sungguh aku mencintaimu

Dan jikalau hatimu tetap ajeg dalam kesepian dan kesetiaan dan pemalu dari sapaan cinta

maka izinkanlah aku mengatakan permintaan hati,

“Aku ingin meminangmu!”

sungguh aku ingin meminangmu”.

 

                                                                                                               Yogyakarta, 29 April 2012


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: