Resume (Ringkasan Jurnal)

Judul: “Kehidupan Sosial Ekonomi pada Rumah Tangga “Bara” di Desa Jambakan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah” (Tebal 42 halaman)”

Pengarang: Emiliana Sadilah

Jurnal: Patrawidya (Seri Penerbitan Sejarah dan Budaya)

Edisi: Vol. 8, No.2, Juni  2007.

Tebal Jurnal  : 510 halaman

 

Indonesia merupakan Negara agraris dengan sebagian besar penduduknya (sekitar 70%) adalah petani, dan sektor tersebut umumnya berada di pedesaan, dan umumnya pula pekerjaanya adalah sebagai petani. Akan tetapi, di dalam realitanya banyak petani yang beralih dari pekerjaanya dari sektor pertanian kepada sektor non pertanian.

Latar belakang yang melandasi petani untuk beralih kepada pekerjaan di sektor non pertanian yaitu disamping menyempitnya lahan pertanian di desa, jenuhnya bekerja sebagai petani dengan pendapatanya yang tidak menentu, hasil panen yang terkadang gagal, juga adanya suatu faktor penarik dari luar pedesaan tersebut yaitu perkotaan yang menyediakan banyak pekerjaan bagi siapapun walaupun pekerjaan tersebut sebagai buruh kasar. Para petani pun banyak yang melakukan mobilitas (perpindahan) ke kota untuk mengais rezeki di sana, akibat dari mobilitas tersebut terjadi kekosongan sebagian kecil penduduk di desa dan sawah pun jadi terbengkalai karena tidak ada yang menggarapnya.

Terkadang pula mobilitas tersebut menimbulkan perubahan sosial dan ekonomi masyarakat baik yang tinggal di desa ataupun yang melakukan mobilitas ke kota. Kajian Inilah yang menjadi suatu penelitian oleh Emiliana Sadilah didalam jurnal Patrawidya, judul penelitiannya adalah “Kehidupan Sosial Ekonomi pada Rumah Tangga “Bara” di Desa Jambakan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah”, yaitu meneliti mengenai mobilitas penduduk desa ke kota di sebuah desa di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, yaitu Desa Jambakan. Mobilitas tersebut dalam istilah lokal dinamakan “bara”, dari mobilitas tersebut dikaji mengenai perubahan sosial-ekonomi yang diakibatkan olehnya, dan itu akan dibahas melalui resume di bawah ini:

I. Pendahuluan

Seperti halmya sebuah penelitian, didalam pendahuluan ini tercantum sebuah latar belakang penelitian, Emiliana Sadilah menyebutkan bahwa banyak terjadi suatu mobilitas penduduk yang berbondong-bondong ke kota untuk mengais rezeki, menyebabkan suatu perubahan dalam kehidupan ekonomi dan sosial didaerah tujuan.

Mobilitas penduduk dari desa ke kota ternyata menjadi sebuah alternatif di sekelompok masyarakat yang tinggal di Kabupaten Klaten. Mobilitas tersebut dalam istilah lokal sering disebut “bara”. Emiliana merumuskan permasalahan penelitiannya berupa sejauh mana kegiatan “bara” ini mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi rumah tangga “bara”.

Lokasi penelitian dipilih Desa Jambakan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Pemilihan lokasi ini dengan alasan Karena desa tersebut memiliki jumlah warga “bara” relatif banyak, itu bisa dilihat dari situasi desa yang terlihat sepi di musim kemarau (yang terlihat para ibu-ibu dan anak-anak dalam usia sekolah dan anak kecil) karena pada musim tersebut kebanyakan yang dewasa terutama laki-laki pergi melakukan ‘bara”. Metode yang digunakan adalah metdoe kualitatif dan kuantitatif dengan harapan dapat memberikan jawaban yang paling tepat, paling tidak mendekati kebenaran.

 II. Deskripsi Daerah Penelitian

Dilihat dari lokasi dan keadaan alam, Desa Jambakan merupakan salah satu desa yang berada di Wilayah Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Letaknya sangat strategis yaitu berada ditengah jalur lalu lintas yang vang ramai antara kota Jogja dengan Kota Surakarta. Letaknya yang tidak terlalu jauh dengan jalur lalu lintas Jogja-Solo ini mempermudah dan memperlancar penduduknya untuk pergi keluar desanya.

Sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pertanian/persawahan, namun tanahnya kurang subur. Jenis tanahnya adalah tanah pasir berwana abu-abu keputihan, yang tidak resisten terhadap air, sehingga di musim kemarau tanah tersebut mengeras dan pecah. Selain kondisi tanah tersebut, keadaan musim juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup penduduk daerah.

Dilihat dari segi kependudukan, berdasar data monografi Desa Jambakan (tahun 2005), jumlah penduduk di desa ini berjumlah 2.691 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 1220 jiwa dan perempuan 1471 jiwa. Mayoritas penduduknya berada pada umur 19 tahun keatas. Kalau dilihat dari tingkat pendidikan, pada tahun 2005 tercatat ada 12 anak lulus TK, 45 anak lulus SD, 28 anak lulus SLTP, dan 20 anak lulis SLTA.jenis pekerjaan yang mereka lakukan sebagian besar sebagai petani, baik petani penggarap maupun buruh tani.

Kondisi keadaan ekonomi masyarakat tergolong miskin, namun berbagai aktivitas kampung yang sifatnya sosial, terlihat berjalan lancar.  Kegiatan kampung tersebut seperti: gotong royong, sumbang menyumbang, menengok orang sakit, ronda, arisan, melayat, dan lain-lain.Sifat kebersamaan antar warga desa tetap terbina apapun kondisinya.
 

 III. Kegiatan “Bara”

“Bara” merupakan istilah lokal yang ada di Wilayah Klaten, termasuk daerah penelitian (Desa Jambakan). Sebenarnya nama yang benar (menurut bahasa Jawa) adalah “bebara”, yang artinya pergi ke kota atau tempat lain untuk mencari pekerjaan (pangupajiwa), karena terlalu panjang dengan sebutan ‘bebara” maka lebih mudah dengan mengucapkan “bara”. Tujuan utama “bara” (meninggalkan desa untuk pergi ke kota), yaitu untuk mencari nafkah/penghasilan, kegiatan ini dilakukan selama setiap musim kemarau.

Pelaku “bara” didominasi oleh kaum laki-laki, umumnya berada pada kelompok umur potensial, berpendidikan rendah, berasal dari kelompok keluarga miskin. Pelaku “bara” terdorong untuk mencari nafkah ke tempat lain (kota) Karena di desanya tidak memiliki penghasilan yang tetap, luas lahan garapan relatif sempit, lahan yang digarap sebagian besar bukan miliknya, hasil tidak menentu (sehingga gagal panen), karena kondisi tanah dan air yang tidak mendukung, sehingga kesulitan untuk memenuhi kehidupan keluarga. Sementara itu, di kota yang menjadi daerah tujuan “bara” ini teredia berbagai jenis lapangan kerja, walaupun jenis pekerjaan mereka sebagai buruh, atau pedagang kaki lima (PKL), dan dapat memperoleh pekerjaan.

IV. Kehidupan Sosial Ekonomi

Sewaktu kegiatan “bara” ini berlangsung (selama musim kemarau) ternyata kegiatan “bara” ini berperngaruh terhadap kehidupan ekonomi rumah tangga  mereka. Terlihat hasil “bara” dapat meringankan beban keluarga mereka dalam mengatasi masalah kebutuhan hidup keluarga. Dalam kehidupan sosial, perannya dalam keluarga dan masyarakat  tidak begitu berpengaruh,  karena keterikatan pelaku “bara” dengan daerah asal masih kuat, didukung dengan jarak yang relatif dekat dan sarana transportasi yang lancar.

Sewaktu tidak pergi “bara” (selama musim penghujan), kehidupan sosial ekonomi rumah tangga “bara” dapat terbilang memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil aktivitas (sebagai petani) belum bisa mencukupi kebutuhan hidup, apalagi kalau gagal panen terpaksa mencari utangan untuk biaya keluarga. Oleh karena itu, aktivitas ini tetap dilakukan layaknya sebagai mata pencaharian pokok walaupun hasilnya tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Dalam kehidupan ekonomi, jenis pekerjaan yang digeluti, luas lahan garapan, dan jumlah anggota keluarga, sangat berpengaruh terhadap tingkat pemenuhan kebutuhan keluarga tersebut. Selain itu peranannya dalam keluarga dan partisipasinya dalam masyarakat, mencerminkan bahwa mereka dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Kegiatan “bara” ini sudah mendarah daging dalam masyarakat dan akan terus menerus dilakukan selama masih ada kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sebagai alternatif terbaik untuk survive.

V. Kempulan

“Bara” memang berpengaruh terhadap kehidupan social ekonomi rumah tangga, namun belum bias mengatasi masalah kebutuhan hidup keluarhga. Masih terbatas pada tahap bias brtahan hidup saja. Dalam kaitanyya dalam peranannya di keluarga dan pertisipasinya dalam masyarakat, kegiatan “bara” ini jiga tidak begitu berpengaruh. Hal ini mengingat pelaku “bara”  berasal dari kondisi ekonomi yang relative rendah, sehingga sulit dientaskan dari kemiskinan karena pekerjaan yang dimiliki si daerah tujuanpun hanya bermodal kecil bahkan tenaga kasar ( sebagai becak dan tukang bangunan)

Ada beberapa saran yang diajukan Emiliana Sadilah mengenai mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah “bara” ini, adapun saran tersebut dapat dibagi menjadi saran input, saran ouput, dan saran outcame.

Saran input, dari hasil penelitian ini dapat memperlihatkan dan menggambarkan kepada parea pembaca sekalian mengenai adanya suatu kelompok di Desa Jambakan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, yang melakukan mobilitras dari desa ke kota untuk mencari nafkah, dimana kegiatan tersebut dinamakan dengan sebutan “bara”. Saran output nya sendiri yaitu memberi masukan kepada pemerintah agar dapat memberi jalan keluar berupa perhatian, kucuran dana, pelatihan terhadap penduduk desa, atau perbaikan sarana dan prasarana di desa tersebut untuk meminimalisirkan masyarakat desa melakukan kegiatan “bara”. Adapun jika saran output tersebut dapat terealisasikan maka diharapkan adanya suatu saran outcame, yaitu diharapkan desa bisa menjadi maju karena adanya penduduk desa sebagai agent of change yang sudah terlatih oleh program-program desa dari pemerintah tersebut, dan juga diharapkan dapat mengatasi segala kesulitan hidup di desa supaya lebih baik.

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: